Sabtu, 06 Februari 2010

saat detik-detik penuh kesedihan


Ya Tuhan semoga besok aku bisa menyaksikan hasil UN ku yang memuaskan dengan hasil jerih payah ku slama ini, dan semoga papa dan mama bisa puas dengan hasil nilai UN ku. Begitulah curhat Risca kepada Tuhan-nya, dia sangat berharap nilai UN nya sangat memuaskan. Esok hari pun tiba, jalanan masih licin karena hujan semalam, namun Risca tetap bersemangat ke sekolah untuk melihat hasil UN nya.
“DORRR....” seseorang mengagetkannya dari belakang
“ya ampun fredy, apa-apaan sih? Nanti kalau aku jantungan gimana?”
“haha, iya deh maaf, aku boleh bareng kamu kan menuju sekolah?”
“hemm, tentu saja boleh”
Fredy sangat mengagumi bahkan menyukai Risca yang selalu penuh dengan semangat itu, ia senang karena dia bisa menjadi sahabat Risca, namun ia teringat oleh janji mereka kalau diantara persahabatan mereka takkan ada cinta, itulah yang membuat Fredy takut untuk mengungkapkan perasaannya.
“Ya Tuhan aku lulus Fred, aku lulus..” teriak Risca yang begitu bangga dengan hasil UN nya.
“selamat ya Ris, akhirnya kita lulus juga, dan kita akan daftar pada SMA yang sama”
“pasti itu bro, aku kan nggak bisa kalau tanpa kamu, hahahaha...” gombal Risca
Hari pendaftaran SMA pun dimulai, mereka memilih SMA yang sama dan takdir pun mempertemukan mereka kembali di SMA, namun di SMA mereka berbeda kelas.
Seminggu kemudian, Risca bertemu dengan seseorang yang bernama Dennis, Dennis juga satu SMA dengan Risca dan Fredy. Dan setelah beberpa hari Risca dan Dennis berteman, lama kelamaan Risca pun jadi menjauh dari Fredy, Fredy sangat kecewa oleh tingkah sahabatnya itu. Dan ketika Fredy mendengar berita dari teman-temannya bahwa Risca telah jadian sama Dennis, Fredy pun sangat terkejut oleh hal itu.
“Risca..........kenapa kau melakukan ini semua? Kau telah melupakan ku dan sekarang kau telah dengan yang lain, sungguh kau tak pernah mengerti perasaanku yang selama ini kupendam, sekarang kau meninggalkanku dan kau sekarang pasti sedang bersenang-senang dengan Dennis, sahabat macam apa kau? Kau telah mendustaiku!!” teriak Fredy di tengah derasnya hujan.
Fredy tak menyangka kalau persahabatannya akan hancur Cuma gara-gara seorang cowo, yaitu Dennis. Semenjak Risca bertemu dengan Dennis, Risca seperti kacang yang lupa pada kulitnya.
“hai sayang” gurau Dennis yang tiba-tiba merangkul Risca
“hei, apa-apaan sih? Nggak usah ngerangkul segala kali, ini tuh sekolah bukan bioskop” gertak Risca
“hehe, iya deh maaf, oya besok temenin aku dong, aku mau nyari buku” rayu Dennis
“hemm, gimana ya? Nggak akh, aku males, besok aku pengen tidur aja, hehehe” tolak Risca
“hemm, ya sudah kalau begitu” cuek Dennis


Selalu saja kata malas yang dikeluarkan oleh mulut Risca untuk menolak ajakan Dennis, Dennis pun sangat bosan mendegar kata-kata itu. Begitu pun juga yang dialami Risca, dia selalu saja bosan mendengar kata-kata ‘hemm, ya sudah’ yang keluar dari mulut Dennis. Ternyata mereka tidak bisa saling mengerti, lain halnya dengan Risca dan Fredy. Mereka berdua selalu saja mengerti satu sama lain.
Hari ini adalah hari jadian Risca dan Dennis yang ke lima bulan, mereka sangat senang karena mereka bisa bertahan dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Namun hal itu tidak dirasakan lagi oleh Risca setelah satu hari lima bulan mereka. Dia bertengkar dengan Dennis Cuma gara-gara hal ynag sangat kecil, hari itu adalah hari kamis jam 11.15, saat Risca membuka Hpnya ia mendapatkan satu new message, dan ternyata itu dari Dennis. Dennis mengabarkan kalau hari itu ia tidak masuk sekolah dikarenakan ia sakit. Risca tau kalau selama ia jadian sama Dennis, Dennis sering sakit-sakitan. Hal itupun membuat Risca penasaran dengan Dennis.
“ada apa dengan Dennis sebenarnya? Dia selalu saja sakit-sakitan. Apa dia punya penyakit yang serius? Tanya Risca dalam hati.
Risca pun tak semangat menjalani hari itu, di otaknya hanya ada Dennis dan Dennis, tak ada yang lain. Dia sangat megkhawatirkannya. Dia takut kalua sampai terjadi apa-apa dengan Dennis.
Bel pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Dengan langkah yang cepat Risca pun langsung ke parkiran motor menggambil motornya dan bergegas menuju ke rumah Dennis yang dekat dari sekolah. Fredy pun heran melihat Risca yang tiba-tiba tingkah lakunya menjadinya aneh. Fredy pun ingin mengikuti langkah Risca, namun sejenak Fredu berpikir, kalau ia mengikuti langkah Risca, mungkin saja Risca menjadi ilfeel dengan fredy karena tiba-tiba Fredy telah menhikuti langkahnya dan yang ada itu akan membuat hubungan persahabatan mereka menjadi makin rusak. Fredy pun mengurungkan niatnya untuk mengikuti langkah Risca.
“Assalamualaikum” teriak Risca sambil mengetok-ngetok pintu rumah Dennis.
Seorang anak kecil berumuran 9 tahun pun keluar dari rumah tersebut. Dia adalah adik laki-laki Dennis.
“eh kak Risca, ada apa kak?” tutur Rey adik laki-laki Dennis.
“gini lho De, kan katanya Abangmu tuh sakit, jadi Kakak mau jenguk dia De” jelas Risca.
“lah, kan Kak Dennis sedang dirawat dirumah sakit, emangnya Kakak nggak tau? Sekarang saja kondisinya makin parah kak” tutur Rey.
“hah? Apa? Dennis punya penyakit kamu bilang? Emangnya Dennis punya penyakit apa sih? Sepertinya penyakitnya sangat serius!” kaget Risca.
“hemm, Kak Dennis pernah bilang sama aku, kalau penyakitnya dia tuh nggak boleh sampai ada yang tau, apalagi kalau sampai Kakak yang tau, Kak Dennis nggak mau ngecewain Kakak, jadi dia merahasiakan ini semua. Tapi mungkin ini saatnya Kakak harus tau semuanya. Sebenarnya Kak Dennis sudah lama mengidap penyakit leukemia, dan mungkin waktunya sudah tak lama lagi” jelas Rey.
“hah??? Nggak mungkin Rey, nggak mungkin. Aku tau, kamu pasti bohong kan sama aku? Jujur Rey!!” bentak Risca yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
“aku udah jujur kak! Yang aku omongin barusan itu adalah kenyataan! Kakak harus terima ini semua! Aku tau Kakak pasti nggak bisa nerima kenyataan ini, tapi apa boleh buat kak, ini semua sudah terjadi. Aku saja sekaran khawatir dengan keadaan Kak Dennis. Apa jadinya kalau ia sudah tak ada lagi? Rumah ini akan menjadi sepi, tak ada lagi suara gitar yang sering dimainkan oleh Kak Dennis, dan juga tak ada lagi yang mengajariku mengenai semua hal” tangis Rey.
“sabar ya Rey, Kakak juga nggak bakal bisa nerima kenyataan ini, sulit banget buat Kakak. Kamu yang sabar ya Rey, Kak Dennis pasti bisa sembuh dari penyakitnya. Kita Cuma harus berdoa untuk kesehatan dia. Sekarang kamu mau kan mengantar Kakak ke rumah sakit?” tutur Risca sambil memeluk Rey yang sedang menangis.
“tapi Kak, aku sudah janji dengan Kak Dennis kalau tidak akan mengetahui keberadaan dan kondisi Kak Dennis sekarang, aku takut kalau aku dimarahi olehnya”
“nggak, kamu pasti nggak bakal dimarahin oleh Kak Dennis. Percaya Rey sama Kakak. Kamu mau kan?”
“hemm, yaudah deh Kak. Aku bakal nganterin Kakak, aku juga sekalian ingin melihat kondisi Kak Dennis”
Risca dan Rey pun tiba di RuMah Sakit dimana Dennis dirawat disitu. Risca dan Rey pun berlari-lari menuju kamar Dennis. Sesampai di depan Kamar Dennis, Risca melihat sepasang suami isteri, dan ternyata itu adalah Papa dan Mama Dennis. Risca pun berlari kearah Orang Tua Dennis yang tengah duduk menahan ngantuk.
“Tante, Om, maaf menggangu. Aku cuma mau nanya gimana keadaan Dennis sekarang?” Tanya Risca.
Mama Dennis pun menangis dan langsung memeluk tubuh Risca yang dingin itu. Risca pun jadi ikut menangis dan suasana menjadi sedih kembali. Entah apa yang ada dipikiran Risca, dia sangat bertanya-tanya ada apa dengan Dennis? Risca sangat takut untuk kehilangan Dennis.
“Den...Dennis sekarang kondisinya sangat buruk. Dokter bilang hidupnya sudah tidak lama lagi. Dia Cuma bisa bertahan dalam kurung waktu dua minggu ini. Tante nggak rela dia pergi” jerit tangis Mama Dennis pun semakin tidak bisa diatur.
“apa Tan? Nggak Tan, ini semua nggak mungkin terjadi. Pasti Dokternya yang salah periksa. Dennis pasti bisa kuat Tan ngadapin ini semua. Aku yakin itu.” Tutur Risca yang sangat yakin atas perkataannya itu.
“nggak Ris, ini nyata! Tante nggak mungkin bohong sama kamu. Sekarang Dennis hanya bisa berbaring di tempat tidur menunggu waktunya. Tante nggak bisa bayangin kalau dia sudah tiada lagi! Tante sangat menyayanginya. Tadi Dennis sempat siuman, dan dia mencari-cari kamu Ris, mungkin dia ingin sekali bertemu denganmu. Cobalah kamu masuk menemuinya, siapa tau kondisinya bisa lebih baik”
“tapi Tante yang sabar ya, dibalik semua ini pasti ada hikmahnya kok Tan, semua orang juga pasti akan menemui ajalnya. Kan semuanya pasti akan balik ke Sang Pencipta. Aku ngerti kok gimana perasaan Om dan Tante sekarang, aku juga merasakan seperti itu. Sekali lagi Om dan Tante dan juga Rey, kalian harus sabar ya. Aku masuk dulu ya Tan” tutur Risca.
Pintu kamar pun dibuka perlahan-lahan oleh Risca. Risca sangat terkejut melihat kondisi Dennis yang terbaring di tempat tidur tersebut. Risca pun meneteskan kembali air matanya. Risca tidak tega melihat kondisi Dennis. Perlahan-lahan Risca mendekati Dennis dan duduk disamping tempat tidur Dennis. Perasaan Risca sangat galau saat itu, dia tak tau harus melakukan apa. Dengan rasa pedih yang amat dalam, Risca mengenggam tangan Dennis yang begitu dingin. Air mata Risca pun mengalir tambah deras.
“Den, kamu kenapa sih nggak pernah cerita soal penyakit yang kamu derita? Kalau aku tau dari awal, aku pasti akan membuat kamu bahagia, nggak bakal bikin kamu kecewa. Tapi kamu tidak memberi tau ku. Betapa kaget nya aku ketika mendengar kondisimu dari Rey. Aku begitu terkejut. Tolong Den, kamu jangan ninggalin aku, jangan ninggalin Papa sama Mama kamu dan juga Rey, mereka sangat takut untuk kehilangan kamu, begitupun juga dengan aku. Aku mohon, kamu sekarang bangun dari kondisi kamu yang kritis ini! Aku sangat mohon kepadamu Den! Kita semua masih membutuhkan mu disini!” bisik Risca pelan
Tiba-tiba, jari Dennis pun bergerak, dan tak lama kemudian Dennis pun membuka matanya perlahan-lahan, dilihat lah Risca yang sedan menangisi nya. Dennis pun tak kuasa dengan itu semua. Risca yang melihat kalau Dennis sudah siuman langsung terkejut dan langsung memanggil kedua Orang Tua Dennis dan juga Rey. Di ruangan yang penuh dengan tangis itu pun langsung membuat Dennis menetaskan air matanya dan mengucapkan kata-kata terakhir untuk Orang Tua nya, Rey, dan juga Risca.
“a...a...aku..sudah ti....ti...tidak tahan lagi dengan ko...kondisi ku se...se...sekarang. Pa, Ma dan juga Rey, ma...maafin Denn...Dennis ya selama ini Dennis su...sudah me..me..repotkan kalian. Dennis sa....sayang banget sama Papa, Mama dan juga Rey” ucap Dennis terbata-bata.
“Dennis, kenapa kamu harus berkata seperti itu Nak? Kamu pasti bisa bertahan dengan kondisimu saat ini, percaya Nak sama Mama, kami semua pasti akan mendoakan mu agar sehat selalu, dan bisa kembali ceria lagi seperti dulu” Ucap Mama Dennis.
“benar Den, apa yang dikatakan Mama tuh benar. Kamu nggak boleh berputus asa. Kamu pasti bisa sehat kembali. Kami belum siap untuk kehilanganmu, dan sampai kapanpun kami tidak akan siap” Ucap Papa Dennis.
“ma...makasih ya Ma, Pa. Kalian udah mau ngedukung Dennis untuk bi...bisa ngelewatin ini se...semua. Oh ya Ris, ma...makasih juga ya kamu udah se...setia sama a...aku, aku nggak tau gimana cara ngebales ini se...semua, a...aku sangat me..nyayangimu. Berjanjilah kepadaku, bahwa kau akan menyayangiku selama-lamanya, dan na...namaku selalu terukir di...dihatimu” pinta Dennis.
“iya Den, aku bakal ngelakuin itu semua. Aku bakal setia sama janji kita dulu. Jika maut sudah memisahkan kita, aku akan tetap mengukir indah namamu dihati ku Den. Aku juga nggak bakal bisa ngelupain kamu. Aku akan selalu menyayangimu dengan tulus Den” Tangis Risca.
“makasih ya Ris, a...aku mempercayaimu. Aku menyayangi kalian se....mua” ucap Dennis.
Dan Dennis pun menutup matanya. Semua yang disekeliling nya langsung panik, dan secepat mungkin mereka memanggil Dokter. Suasana semakin sedih. Setelah Dokter memeriksa keadaan Dennis, hasilnya adalah Dennis sudah tiada lagi. Jerit tangis pun dimulai, semuanya menangis terutama Mama Dennis, ia langsung memeluk suaminya dengan tangisan yang begitu keras. Begitu pun juga dengan Risca, dia memeluk Rey yang saat itu pikirannya galau.
Hari pemakaman Dennis pun tiba. Hari itu pemakaman berjalan dengan lancar. Isak tangis orang-orang yang datang pada hari itu mulai hilang dengan pulangnya orang-orang tersebut. Yang tersisa hanyalah keluarga Dennis, Risca dan juga Fredy.
“Ris, kami semua pulang duluan ya, kami mau mengaji bareng dirumah. Oh ya, kamu tetap sering-sering main ke rumah ya” ucap Mama Dennis.
“iya Tan, pasti itu, aku pasti bakal sering main-main kerumah. Tenang aja Tan. Tante, Om dan Rey kalian hati-hati ya, jalanan masih licin akibat hujan semalam” usap Risca.
Di pemakaman pun hanya tersisa Risca dan Fredy. Risca hanya bisa menangis sambil mengelus-ngelus batu nisan Dennis. Fredy tak tega melihat kondisi Risca saat itu. Langit mulai mendung, Fredy pun mengajak Risca untuk pulang karena sebentar lagi hujan akan turun.
Di tengah perjalanan pulang, Fredy pun berkata kepada Risca.
“Ris, kamu jangan sedih lagi ya. Semua orang pasti akan balik ke Sang Pencipta. Kamu nggak boleh terus-terusan bersedih, kamu harus ngejaga kesehatan kamu”
“kenapa kau masih peduli padaku? Aku sudah menyia-nyiakanmu, aku telah lupa kepadamu. Tapi kenapa kau masih peduli? Aku bukanlah sahabat yang baik bagimu”
“hey, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Aku pasti akan selalu ada disamping kamu. Disaat kamu sedih maupun senang aku pasti akan selalu ada disitu. Dan kamu adalah sahabat terbaik aku. Aku sangat menyayangimu Risca, seperti aku menyayangi adikku”
“makasih ya Fred, aku nggak tau harus ngelakuin apa untuk ngebalas semua kebaikanmu. Aku pikir kau tak lagi peduli denganku. Kamu nggak bakal ninggalin aku kan?”
Fredy terdiam mendengar pertanyaan Risca, dia nggak mau ninggalin Risca, tapi dia harus melanjutkan sekolahnya ke Luar Negeri. Dia tak mau melihat Risca sedih jika Risca tau kalau Fredy akan ke Luar Negeri.
“woiiiii, Fredy kok kamu diem sih. Kamu nggak bakal ninggalin aku kan?” triak Risca.
“sebelumnya aku minta maaf banget sama kamu Ris. Tapi aku besok harus ke Luar Negeri. Papa ku ingin aku melanjutkan sekolah di Paris. Dan aku tak bisa menolaknya. Aku mohon........”
“stop Fred !! Stop !! aku tak mau mendengar penjelasanmu lagi. Kita dulu pernah janji kalau kita nggak bakal berpisah, tapi kenapa sekarang kamu bakal ninggalin aku? Kamu jahat Fred, kamu jahat !!! Aku membencimu!!”
“Ris....Risca........tunggu dengerin penjelasanku !!!” triak Fredy.
Risca pun tak menoleh sama sekali. Ia berlari sekencang mungkin ditengah derasnya hujan. Sementara Fredy mencoba untuk mengejarnya tapi tak berhasil. Tiba-tiba saja Risca menghilang dari pandangannya.
“arkhhhhhhhhhhhhhh........ aku benci kamu Fred !! Sungguh aku membencimu !! kau tega meninggalkanku disaat keadaan ku sangat buruk !! sungguh aku benci kepadamu !!” teriak Risca sekeras mungkin.
Hari keberangkatan Fredy ke Paris pun tiba. Fredy sangat berharap Risca datang ke airport untuk menemuinya terakhir kali. Namun Risca tak kunjung datang, padahal keberangkatannya tinggal satu jam lagi.
Di rumah Risca sedang terdiam memikirkan sesuatu. Hatinya berkata kalau ia harus ke airport sekarang untuk menemui Fredy yang terakhir kalinya. Risca pun mempertimbangkan hal itu. Dua puluh menit pun berlalu, Risca masih saja terdiam memikirkan langkahnya. Namun ia langsung berdiri mengambil tas dan juga sebuah kotak berisikan jam air dan langsung menuju airport.
Di airport Fredy merasa bimbang. Dia tak tau harus berbuat apa supaya Risca bisa memaafkannya sepuluh menit lagi Fredy harus masuk ke dalam pesawat sebab pesawat tersebut sudah mau lepas landas. Risca pun tak kunjung datang. Dan Fredy pun putus asa menunggu kedatangan Risca. Ia lalu berjalan untuk memasuki pesawat. Namun seseorang berteriak dari belakang memanggilnya.
“Fredy.....hey.....tunggu!!!!!!!” secepat kilat Risca langsung menghampiri Fredy. Fredy pun tak percaya dengan semua itu. Baginya itu adalah sebuah keajaiban.
“aku pikir aku sudah telat untuk menemuimu, aku Cuma ingin memberikan salaman perpisahan. Oh ya, ini untukmu, dijaga baik-baik ya. Kamu baik-baik ya disana. Harus jaga diri. Oke bos?” ucap Risca yang langsung meneteskan air matanya.
“aku juga berpikir kalau kau tak kan menemuiku untuk terakhir kalinya. Makasih ya Ris, aku pasti akan menyimpan benda ini dengan baik. Dan aku pasti akan tetap menjaga persahabatan kita” ucap Fredy.
“tadinya aku juga berpikir seperti itu, tapi keadaan berkata lain. Makasih ya. Aku pasti akan selalu mengingatmu.”
“hahaha, ya sudah. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Tapi mungkin aku harus segera pergi. Pesawat nya sudah mau lepas landas. Hehehe, aku menyayangimu Ris”
“aku juga sangat senang. Kamu hati-hati ya. Inget, jaga diri kamu, jangan sampai sakit. Aku juga menyayagimu”
“makasih ya Ris. Sudah saatnya aku pergi. Sampai ketemu lagi” senyum Fredy kepada Risca yang masih saja meneteskan air matanya.
“sampai ketemu juga ya Fred” ucap Risca sambil melambaikan tangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar